
Ilustasi Ai Oleh Editor Aksara Merdeka
Sejarah selalu berjalan di antara dua jalur: yang terjadi dan yang mungkin terjadi. Kita tahu jalur pertama — bangsa ini dijajah, diperdaya, lalu bangkit. Tapi mari kita berandai sejenak di jalur kedua:
“Bagaimana jika VOC dan Belanda tidak pernah datang ke Nusantara?” “Apakah kerajaan-kerajaan kita akan tetap berdiri hingga hari ini?”
Kerajaan-Kerajaan Nusantara Sebelum Penjajahan
Sebelum kapal Eropa mengarungi laut timur, Nusantara sudah punya peradaban yang matang: Majapahit, Sriwijaya, Mataram, Aceh, Gowa, Ternate, Tidore — semuanya punya sistem politik, ekonomi, dan diplomasi yang canggih untuk zamannya.
Mereka berdagang dengan Arab, India, Cina, bahkan Afrika Timur. Pelabuhan-pelabuhan seperti Malaka dan Gresik ramai dengan kapal asing. Artinya, tanpa VOC pun, bangsa ini sudah mengenal dunia luar.
Namun, kekuatan besar itu juga menyimpan kelemahan: persaingan antarkerajaan, perebutan wilayah, dan perbedaan agama mulai menajam. Majapahit runtuh bukan karena Belanda — tapi karena perpecahan internal.
Jadi, bahkan tanpa kedatangan Belanda, kerajaan-kerajaan Nusantara kemungkinan besar tetap akan berubah, entah karena konflik internal, tekanan global, atau perubahan zaman.
Mungkin Bukan Penjajahan, Tapi Dominasi Baru
Kalau bukan Belanda, mungkin Portugis, Spanyol, atau Inggris yang datang lebih dulu —karena rempah Nusantara terlalu berharga untuk diabaikan dunia.
Kalaupun semua bangsa Eropa tak datang, pengaruh Cina dan India kemungkinan besar akan lebih kuat. Jalur dagang dan budaya mereka sudah lama tertanam di sini.
Artinya, Nusantara tetap akan jadi rebutan pengaruh global, karena kekayaannya luar biasa. Mungkin tidak dijajah secara militer, tapi tetap akan ada dominasi ekonomi dan budaya — penjajahan versi halus.
Sejarah mengajarkan: kekayaan tanpa persatuan selalu mengundang penjajahan, dari siapa pun bentuknya.
Apakah Kerajaan Akan Bertahan Sampai Sekarang?
Kemungkinan besar: tidak.
Karena dunia berubah cepat. Kerajaan-kerajaan besar di Asia juga runtuh bukan karena dijajah, tetapi karena gagal beradaptasi dengan modernitas:
- Dinasti Mughal di India runtuh karena stagnasi.
- Dinasti Qing di Cina melemah karena birokrasi yang beku.
- Kerajaan-kerajaan di Timur Tengah terpecah karena konflik suku dan ideologi.
Begitu pula Nusantara — kalau tidak dijajah, mungkin kerajaan-kerajaan kita akan tetap eksis secara simbolik (seperti Jepang dengan Kaisarnya), tetapi kekuasaan politiknya tergantikan oleh sistem modern.
Mungkin kita akan hidup dalam negara-negara kecil seperti: Kerajaan Jawa, Kesultanan Aceh, Republik Sulawesi, dan Federasi Maluku.
Bayangkan Asia Tenggara seperti Eropa — banyak negara kecil yang saling berdagang dan bersekutu. Mungkin tidak ada “Indonesia”, tapi ada “Konfederasi Nusantara” — semacam Uni Asia Timur versi tropis.
Ada Hal yang Pasti: Kesadaran sebagai Bangsa Takkan Muncul
Inilah inti dari semuanya, kalau VOC dan Belanda tidak datang, mungkin kita takkan pernah menyebut diri sebagai “bangsa Indonesia.” Karena konsep “Indonesia” lahir justru dari penderitaan yang sama: saat semua daerah, dari Aceh sampai Papua, mengalami penindasan yang serupa. Penderitaan itu menyatukan yang dulu terpisah.
“Tanpa penjajahan, mungkin kita tetap jaya sebagai kerajaan. Tapi mungkin juga kita tak pernah menjadi bangsa.”
Kesadaran nasional — ide bahwa rakyat dari ribuan pulau punya nasib dan cita-cita yang sama — baru muncul ketika penjajahan memaksa kita melihat diri sendiri sebagai satu tubuh yang terluka bersama.
Baca juga: Benarkah Indonesia Dijajah 350 Tahun?
Luka yang Menyatukan
Kadang sejarah berjalan dengan cara yang keras. Bangsa ini dijajah, diperdaya, dan diperas.Tapi dari situ lahir sesuatu yang tak ternilai: kesadaran kolektif.
Seandainya VOC dan Belanda tidak pernah datang, mungkin kerajaan kita makmur, tapi rakyatnya tetap terpisah, sibuk menjaga tahta masing-masing. Mungkin tak ada merah putih,tidak ada 17 Agustus, tidak ada Indonesia.
“Kadang Tuhan mengizinkan penjajahan bukan untuk melemahkan bangsa,tapi untuk membuat mereka sadar bahwa hanya dengan bersatu mereka bisa merdeka.”
Penutup
Jadi, kalau VOC dan Belanda tidak pernah datang, kerajaan Nusantara mungkin bertahan, tapi tidak akan melahirkan Indonesia. Kita mungkin tetap kaya, tapi bukan satu. Kita mungkin tetap berdaulat, tapi tanpa kesadaran kebangsaan. Sejarah memang pahit, tetapi dari pahit itulah lahir manisnya kemerdekaan.
Baca juga: Dari Raden Wijaya ke Para Pendiri Bangsa: Memperdaya Penjajah demi Kemerdekaan
