
Ilustrasi AI oleh Editor Aksara Merdeka
1. Sejarah Panjang Sebuah Bangsa Pembelajar
Sejarah panjang bangsa China adalah bukti nyata bahwa kemajuan tidak datang dari keberuntungan, tetapi dari kebiasaan belajar yang diwariskan lintas generasi.
Mereka tidak hanya membangun tembok besar secara fisik, tetapi juga tembok peradaban yang kokoh melalui budaya membaca, menulis, dan mendokumentasikan setiap pengetahuan yang mereka miliki. Bangsa ini telah hidup ribuan tahun dengan satu prinsip sederhana: setiap generasi harus lebih berilmu dari generasi sebelumnya.
Dan prinsip itu bukan hanya slogan — tapi benar-benar dijalankan melalui disiplin, rasa hormat terhadap guru, serta keinginan kuat untuk mencatat dan meneliti.
2. Sejarah sebagai Cermin Ketekunan
Dari catatan Dinasti Han, Tang, hingga Ming, kita melihat betapa telitinya bangsa China menulis sejarahnya sendiri. Mereka tidak membiarkan waktu menghapus kisah masa lalu.
Setiap peristiwa, perdagangan, perang, bahkan perjalanan diplomatik dicatat dengan rapi. Catatan seperti itu bukan sekadar arsip, tapi bahan belajar bagi generasi berikutnya.
Menariknya, sebagian besar sejarah Nusantara justru kita kenal dari catatan pedagang dan penjelajah China. Dari merekalah kita tahu tentang Kerajaan Kalingga, Sriwijaya, Singhasari, hingga Majapahit. Nama-nama seperti I-Tsing, Ma Huan, dan Fei Xin menulis detail tentang pelabuhan, budaya, dan tata pemerintahan di kepulauan ini.
Artinya, ketika bangsa lain sibuk berperang atau berkuasa, bangsa China sibuk menulis — dan dari tulisan itulah mereka membangun warisan ilmu yang tak lekang oleh waktu.
Baca juga: Mengapa Indonesia Dulu Jarang Mencatat Sejarah Dunia?
3. Budaya Membaca dan Menulis sebagai Nafas Bangsa
Di China, membaca bukan hanya kegiatan akademik, tapi bagian dari moral dan kehormatan. Anak-anak diajarkan menghormati pena seperti menghormati orang tua. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa menulis adalah cara untuk meninggalkan jejak kebaikan di dunia.
Dari filosofi Konfusius yang menekankan pentingnya pendidikan, hingga ajaran Islam di masa Dinasti Tang yang memelihara budaya ilmu di Tiongkok barat — semuanya menunjukkan satu hal: Bangsa yang mencintai ilmu tidak akan pernah benar-benar jatuh.
Tidak heran jika mereka mampu bertahan menghadapi badai zaman — dari kekuasaan dinasti, kolonialisme, hingga revolusi modern. Mereka selalu kembali ke akar budaya belajar, mencatat, dan meneliti. Hasilnya terlihat hari ini: China menjadi pusat teknologi, industri, dan inovasi global. Semuanya lahir dari kebiasaan sederhana: membaca, menulis, dan belajar tanpa henti.
4. Pelajaran untuk Indonesia
Kita, bangsa Indonesia, bisa mengambil pelajaran besar dari itu. Kita sering bangga dengan kekayaan alam, tapi lupa membangun kekayaan intelektual. Kita kagum pada sejarah besar Majapahit, tapi jarang menulis sejarah kita sendiri dengan serius.
Bahkan banyak naskah kuno dan warisan leluhur kita yang hilang karena tidak dijaga — seolah kita rela kehilangan jati diri perlahan.Jika kita ingin menjadi bangsa besar, kita harus mencontoh apa yang dilakukan bangsa China. Ambil yang baik: ketekunan, disiplin, semangat belajar, dan tradisi mencatat ilmu. Buang yang buruk: keserakahan, politik tanpa moral, dan hilangnya empati terhadap rakyat kecil.
Bangsa besar tidak lahir dari pidato dan simbol, tapi dari generasi yang membaca, menulis, dan belajar lebih giat dari generasi sebelumnya.Ketika membaca menjadi kebiasaan, dan menulis menjadi warisan, barulah kita benar-benar bergerak menuju kemajuan sejati.
5. Membangun Generasi Pembaca dan Penulis di Tanah Air
Kalau bangsa China menanamkan budaya belajar sejak kecil, kita pun bisa memulainya dari rumah dan sekolah. Anak-anak harus dibiasakan membaca bukan karena tugas, tapi karena rasa ingin tahu. Guru dan orang tua perlu menjadi contoh yang menghargai ilmu — bukan sekadar memuji nilai, tapi menghormati proses belajar.
Bayangkan jika setiap anak Indonesia menulis kisah, membaca buku, dan berpikir kritis sejak dini; kita tidak hanya mencetak siswa pintar, tapi membangun generasi pembelajar sejati. Membaca dan menulis bukan hanya kegiatan akademis, tapi fondasi peradaban. Dari pena lahir pemikiran, dari tulisan lahir perubahan.
6. Kesimpulan: Mengambil yang Baik, Membuang yang Buruk
China tidak sempurna — mereka juga punya sisi kelam. Namun, dari sejarah mereka kita belajar bahwa kemajuan selalu dimulai dari keberanian untuk belajar dan mencatat. Jika kita ingin menjadi bangsa besar, kita harus berani mengambil yang baik dan membuang yang buruk.
Bangsa yang mencatat tidak akan dilupakan. Bangsa yang belajar tidak akan ditinggalkan. Dan bangsa yang mau mengambil hikmah dari mana pun — dialah yang akan bertahan sepanjang zaman.
Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.”(Hadis Nabi ﷺ)
Baca juga: Mengapa Sahabat Nabi Saling Menolak Jadi Pemimpin: Keteladanan Akhlak di Balik Kekuasaan
