
Ilustrasi Gambar Oleh Editor Aksara Merdeka
Dalam kebudayaan Jawa, kata weton sering terdengar seperti sesuatu yang mistis. Sebagian orang mengaitkannya dengan nasib, rezeki, bahkan jodoh. Padahal jika kita menelusuri akar sejarahnya, weton bukanlah sekadar hitungan gaib, melainkan ilmu pengetahuan tradisional yang berakar pada filosofi kehidupan dan keteraturan alam.
Makna Dasar Weton
Secara etimologis, weton berasal dari kata “wetu” yang berarti keluar atau lahir. Jadi, weton sesungguhnya berarti hari kelahiran seseorang berdasarkan hari pasaran Jawa yang berjumlah lima — Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon —dikombinasikan dengan tujuh hari dalam kalender Masehi. Artinya, ada 35 kemungkinan kombinasi, dan masing-masing dipercaya memiliki “energi” tersendiri.
Namun leluhur Jawa tidak menciptakan hitungan ini untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengenali pola hidup manusia. Weton digunakan sebagai alat refleksi:
Hari kelahiran bukan untuk menentukan takdir, tapi untuk mengenal tabiat agar manusia tahu bagaimana memperbaiki diri.
Weton dan Keseimbangan Alam
Leluhur Jawa melihat kehidupan sebagai siklus yang penuh keseimbangan. Hari dan pasaran bukan hanya angka, tetapi representasi dari energi alam semesta. Mereka percaya bahwa manusia lahir membawa “getaran” tertentu —gabungan dari unsur bumi (materi), air (rasa), api (semangat), angin (pikiran), dan eter (jiwa).
Melalui weton, mereka mencoba memahami bagaimana unsur-unsur itu bekerja dalam diri seseorang. Seseorang yang lahir pada Senin Pahing, misalnya, diyakini memiliki keseimbangan antara pikiran yang tajam dan perasaan yang halus. Sementara Jumat Kliwon sering disebut membawa wibawa dan keteguhan batin.
Namun, filosofi sejatinya bukan untuk membandingkan siapa lebih unggul, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki jalan berbeda dalam menata unsur kehidupannya.
Weton Sebagai Cermin Diri
Dalam manuskrip-manuskrip Jawa kuno, weton digunakan untuk mengenal diri. Seperti halnya orang modern memakai tes kepribadian, orang Jawa dulu menggunakan weton sebagai alat introspeksi.
Ketika seseorang dianggap pemarah, malas, atau mudah tersinggung, leluhur akan menelusuri weton-nya, bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk mencari jalan harmoni — misalnya dengan ritual selametan, tirakat, atau laku batin. Tujuannya bukan mengubah takdir, melainkan menyadarkan manusia untuk menyeimbangkan diri dengan tatanan alam.
Filsafat di Balik Perhitungan
Di balik hitungan yang tampak rumit, sebenarnya tersimpan filsafat waktu dan kesadaran. Setiap hari dianggap memiliki nilai moral dan spiritual tersendiri. Misalnya:
- Senin melambangkan awal dan niat.
- Kamis simbol keteguhan.
- Jumat hari penyucian diri.
- Kliwon dianggap waktu antara dunia nyata dan batin.
Leluhur memandang waktu bukan sebagai garis lurus, tetapi lingkaran abadi sebagai tempat manusia terus belajar dari ulangannya sendiri. Karena itu, orang Jawa selalu diajak eling lan waspada (ingat dan sadar). Hidup bukan untuk menaklukkan nasib, tetapi menata batin agar selaras dengan putaran alam.
Relevansi di Zaman Sekarang
Sayangnya, banyak orang modern memahami weton secara sempit. Padahal, jika diselami, weton mengajarkan kita tiga hal penting:
- Kesadaran waktu: lahir sebagai titik awal perjalanan hidup.
- Kesadaran watak: bahwa setiap orang unik dan perlu memahami dirinya.
- Kesadaran moral: untuk tidak menyalahkan takdir, melainkan menata diri agar lebih baik.
Jadi ketika orang menertawakan weton sebagai takhayul, mereka mungkin belum tahu bahwa di balik hitungan itu tersimpan filsafat psikologi dan spiritualitas Nusantara yang jauh lebih tua dari teori kepribadian modern.
Penutup
Weton bukan soal ramalan. Ia adalah cermin batin yang diwariskan oleh kebijaksanaan leluhur. Bukan untuk meramal masa depan, tapi untuk menuntun langkah hari ini. Karena sejatinya, seperti kata pepatah Jawa:
“Sing bisa ngetung wektu, bakal ngerti dalane urip.”
(Siapa yang mampu memahami waktu, akan tahu arah hidupnya.)
Baca juga: Ketika Hitungan Weton Tidak Bisa Lagi Menentukan Jodoh
