
Foto oleh Vlad Chețan: www.pexels.com
Indonesia dikenal sebagai salah satu negeri dengan kekayaan alam terbesar di dunia: emas, nikel, batu bara, migas, hutan, laut, semuanya ada. Namun realitas sehari-hari sering berkata lain: banyak rakyat masih berjuang untuk hidup layak.
Pertanyaannya sederhana tapi menyentuh jantung persoalan:
“Kalau alam kita kaya, mengapa rakyatnya tidak ikut kaya?”
Jawabannya tidak satu. Ada beberapa akar besar yang saling menguatkan dan semuanya harus dibahas dengan jernih.
1. Kita Menjual Mentah, Negara Lain Menjual Produk Jadinya
Ini penyebab paling klasik dan paling fatal. Indonesia sering mengekspor bahan mentah:
- nikel mentah
- batu bara
- minyak mentah
- bauksit
- sawit
- rempah
- ikan
Padahal negara maju membeli itu murah, mengolahnya, lalu menjual kembali dengan harga berkali-kali lipat.
Contoh sederhana:
- Nikel → diolah jadi baterai → untung raksasa
- CPO → diolah jadi kosmetik & minyak premium → untung besar
- Kayu → jadi furniture branded → harganya meledak
Akibatnya nilai tambah tidak dinikmati rakyat Indonesia, tetapi dinikmati negara yang membeli bahan mentah dari kita. Selama ekspor kita masih dominan mentah, rakyat sulit ikut sejahtera.
2. Ketimpangan Pengelolaan: Kekayaan dikuasai segelintir pihak
Kekayaan alam besar, tetapi:
- konsesi dikuasai korporasi besar
- izin tambang dikuasai segelintir elite
- keuntungan menumpuk di beberapa kelompok saja
- rakyat sekitar tambang hanya mendapat sedikit
- daerah kaya mineral belum tentu kaya ekonominya
Kekayaan alam secara teori milik rakyat, tetapi secara praktik hanya sebagian kecil yang bisa menikmatinya.
Jika sumber daya dikelola oleh sedikit pihak, maka hasilnya juga hanya akan mengalir ke sedikit kantong.
3. Banyak Penduduk Tidak Sama Dengan Kemiskinan — Masalahnya Ada di Akses Ekonomi
Banyak orang sering berkata:
“Mungkin rakyat susah karena penduduknya banyak.”
Itu keliru, Negara maju seperti Jepang & Korea juga padat penduduk, tetapi mereka menciptakan: pendidikan kuat, industri kuat, inovasi kuat, pengelolaan ekonomi rapi.
Indonesia tidak miskin karena banyak orang. Indonesia miskin karena rakyat belum punya akses luas pada ekonomi yang menguntungkan, terutama: modal, pendidikan, keahlian tinggi, industri manufaktur, lapangan kerja berkualitas, dan teknologi baru.
Hasilnya rakyat hanya menjadi penonton dari kekayaan alamnya sendiri.
Baca juga: Mengapa Kita Miskin di Negeri yang Kaya?
4. Korupsi: Merampok masa depan rakyat
Ini adalah realita pahit dalam sebuah negeri.
Korupsi:
- Membuat anggaran pembangunan bocor.
- Membuat dana rakyat tidak sampai ke rakyat.
- Membuat infrastruktur molor.
- Merusak kepercayaan publik.
- Membuat investasi tidak efisien.
- Dan mengurangi kualitas layanan negara.
Setiap rupiah yang hilang karena korupsi adalah: rupiah yang seharusnya menjadi kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan rakyat.
Selama korupsi masih bercokol kuat, kekayaan alam akan terus bocor seperti ember berlubang.
5. Ekonomi belum bergerak dari sektor primer ke sektor industri
Negara kaya tidak pernah mengandalkan sumber daya alam saja. Mereka membangun industri: mobil, elektronik, perkapalan, farmasi, mesin, teknologi, AI, software, dan energi terbarukan
Indonesia masih berada pada fase ekonomi primer: menambang, menebang, mengambil hasil bumi.
Padahal negara akan sejahtera ketika mencipta, bukan hanya menggali. Inilah jalan panjang yang harus ditempuh Indonesia.
6. Ketergantungan pada harga komoditas global
Komoditas seperti: batu bara, minyak, emas, nikel sangat tergantung pada harga dunia. Jika harga naik maka ekonomi ikut naik. Jika harga turun maka ekonomi langsung jatuh.
Rakyat tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian ini. Negara harus memperkuat:
- industri dalam negeri
- UMKM
- teknologi
- produksi tinggi nilai tambah
- lapangan kerja skill tinggi
Jika tidak, kesejahteraan akan naik–turun seperti grafik saham.
Kesimpulan
Kekayaan alam adalah anugerah, tetapi tanpa pengelolaan yang adil, hilir yang kuat, dan industri yang mandiri, rakyat tidak akan ikut kaya. Indonesia tidak miskin. Indonesia kurang memaksimalkan apa yang dimiliki.
Akar masalahnya ada pada:
- ekspor mentah
- ketimpangan pengelolaan
- kurangnya industri
- korupsi
- akses ekonomi rakyat yang terbatas
Solusinya jelas: Jadikan kekayaan alam sebagai pondasi, bukan tujuan akhir.
Yang membuat rakyat sejahtera adalah ilmu, industri, kreativitas, dan pengelolaan yang bersih. Dan era digital hari ini memberi harapan baru: rakyat punya banyak cara untuk naik kelas, asal memiliki akses, keberanian, dan kesempatan.
Baca juga: Era Digital: Ketika Rakyat Bersatu Menuntut Keadilan
