
Banyak orang baru menyadari setelah lulus: sekolah mengajarkan kita banyak hal, kecuali cara menghasilkan uang. Kita belajar rumus, teori, hafalan, dan berbagai konsep, tetapi tidak diajari bagaimana membuat produk, membangun usaha, atau menciptakan nilai ekonomi dari diri sendiri.
Padahal, kemampuan menghasilkan uang adalah keterampilan hidup yang menentukan masa depan seseorang. Lalu, mengapa sekolah tidak mengajarkannya? Alasannya ternyata lebih dalam dari yang kita kira.
1. Karena Sistem Pendidikan Dibangun untuk Era Industri, Bukan Era Digital
Sekolah modern pada dasarnya masih mewarisi sistem abad ke-19 yang tujuannya mencetak pekerja pabrik yang rapi, patuh, dan bisa mengikuti instruksi.
Makanya:
- Ada bel masuk dan bel pulang seperti shift kerja.
- Duduk berbaris, seperti lini produksi.
- Tugas meniru, bukan mencipta.
Di masa itu, menghasilkan uang dianggap tugas perusahaan, bukan individu. Sementara dunia sekarang sudah berubah: Anak SMA saja bisa bikin aplikasi, jual desain, atau bikin akun TikTok bernilai ratusan juta. Sekolah belum mengejar perubahan ini.
2. Karena ‘Menghasilkan Uang’ Identik dengan Risiko dan Ketidakpastian
Menghasilkan uang di dunia nyata berarti berhadapan dengan ketidakpastian: gagal, rugi, ditolak pasar, atau produk tidak laku. Sekolah tidak bisa mengambil risiko seperti itu.
Mereka perlu sistem yang stabil, sama untuk semua murid, dan aman secara administratif. Itulah sebabnya praktik di sekolah hanya “latihan jualan kecil-kecilan”.
Tidak ada konsep branding, digital marketing, riset pasar, manajemen keuangan, atau pembuatan produk digital. Semua itu terlalu berisiko untuk jadi kurikulum wajib.
Padahal, dunia modern justru mengharuskan seseorang berani mencoba hal baru. Anak muda hari ini bisa menjual e-book, template, desain, kursus, foto, video, plugin, sampai aplikasi, tetapi keterampilan ini tidak pernah dipelajari secara langsung di sekolah.
Baca juga: Apa Jadinya Jika Pendidikan Dan Kesehatan Gratis?
3. Sekolah Tidak Mengajarkan Cara Membuat Nilai
Untuk menghasilkan uang, seseorang harus menciptakan nilai. Ini inti dari semua bisnis. Nilai bisa berupa solusi, manfaat, hiburan, kenyamanan, kecepatan, atau keunikan.
Namun sekolah lebih fokus mengajarkan cara memenuhi standar: kerjakan tugas, ikut ujian, kumpulkan nilai, patuhi aturan.
Akibatnya, anak tidak dilatih untuk bertanya:
- Apa masalah di sekitar yang bisa aku selesaikan?
- Apa kebutuhannya?
- Apa yang bisa aku ciptakan?
- Bagaimana cara menjualnya?
Mereka tidak diajarkan untuk melihat peluang. Padahal, kemampuan melihat peluang jauh lebih berharga daripada hafal rumus atau teori.
Jika sekolah mengajarkan cara membuat produk digital, membangun platform, membuat konten, membaca data konsumen, atau membuat sistem sederhana untuk menghasilkan uang, hasilnya akan berbeda. Siswa belajar menciptakan, bukan hanya mengerjakan.
4. Cara Menghasilkan Uang Sebenarnya Sudah Berubah
Dulu, cara menghasilkan uang terbatas: jadi pegawai, jadi pedagang, atau bekerja di sektor tertentu. Kurikulum sekolah masih memakai pola era itu. Padahal sekarang peluangnya hampir tidak terbatas.
Hari ini, anak SMA saja bisa:
- Bikin e-book lalu dijual di sosial media.
- Jualan foto di platform internasional.
- Bikin desain lalu dijual berkali-kali.
- Jadi editor video.
- Jadi admin media sosial.
- Membuka jasa AI prompt.
- Bikin web sederhana.
- Atau monetisasi konten.
Tanpa modal besar pun bisa. Internet memotong jarak antara pengetahuan dan penghasilan. Tapi sekolah tidak mengajarkan cara memanfaatkannya.
Bahkan sering dianggap “bukan pelajaran”. Inilah alasan utama banyak anak muda merasa sekolah tidak mempersiapkan mereka menghadapi realita modern.
Kesimpulan: Sekolah Tidak Salah, Tapi Terlambat Beradaptasi
Jika sekolah tidak mengajarkan cara menghasilkan uang, itu bukan kegagalan total. Namun memang ada kekosongan besar yang harus diisi oleh generasi sekarang.
Kabar baiknya?
Zaman digital memberi peluang besar. Siapa pun bisa belajar bisnis dari YouTube, TikTok, kursus online, atau langsung praktik lewat internet. Sekolah memberi pondasi, tetapi kitalah yang membangun rumah masa depan kita.
Pada akhirnya, hidup di era sekarang tidak lagi menunggu sekolah memberi semua jawabannya. Dunia berubah terlalu cepat untuk ditunggu kurikulumnya menyusul.
Justru mereka yang berani belajar sendiri, mencoba hal baru, dan memanfaatkan teknologi, merekalah yang menang lebih dulu.
Sekolah memberi dasar, tetapi masa depan dimenangkan oleh mereka yang mau bergerak lebih jauh dari sekadar apa yang diajarkan.
