
Gambar Oleh Editor Aksara Merdeka
Jika kita menelusuri sejarah Olimpiade modern, ada satu pola yang terus berulang dari masa ke masa: negara-negara dengan ekonomi kuat hampir selalu mendominasi perolehan medali. Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Inggris, dan Jerman selalu berada di puncak klasemen.
Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan bahwa olahraga tidak pernah lepas dari fondasi ekonomi suatu bangsa.
Olahraga Bukan Sekadar Bakat, Tapi Ekosistem
Sering kali publik hanya melihat atlet sebagai sosok tunggal yang berjuang di lapangan. Padahal di balik satu medali emas olimpiade, terdapat rangkaian panjang dukungan sistemik: mulai dari pelatih berkualitas, fasilitas latihan modern, riset nutrisi, teknologi pemulihan tubuh, hingga jaminan sosial bagi atlet dan keluarganya.
Semua itu membutuhkan biaya besar — yang hanya bisa dijalankan dengan ekonomi yang mapan dan tata kelola negara yang sehat. Negara miskin sulit bersaing bukan karena kekurangan bakat, tetapi karena bakat itu tak pernah tumbuh dalam sistem yang mendukungnya.
Banyak atlet hebat lahir dari kegigihan pribadi, bukan dari kebijakan yang dirancang negara. Akibatnya, prestasi olahraga di negara berkembang sering bersifat insidental — muncul sebentar lalu tenggelam, tergantikan oleh generasi yang nasibnya tidak lebih baik.
Cina: Dari Ekonomi Bangkit, Olahraga Menggeliat
Contoh paling jelas adalah Tiongkok. Pada dekade 1980-an, Tiongkok belum dikenal sebagai raksasa olahraga dunia. Namun ketika ekonomi mereka tumbuh pesat, pemerintah mulai melihat olahraga sebagai bagian dari kebanggaan nasional. Dana besar digelontorkan untuk membangun pusat pelatihan, merekrut pelatih asing, dan mengembangkan riset ilmiah dalam olahraga.
Kini, setiap Olimpiade, Tiongkok menjadi pesaing utama Amerika Serikat. Mereka bukan sekadar ikut bertanding, tapi mengejar supremasi global. Dari renang hingga angkat besi, dari badminton hingga senam, hampir di semua cabang olahraga Tiongkok punya wakil elit dunia. Semua ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi bisa diubah menjadi kekuatan simbolik bangsa.
Indonesia: Potensi yang Belum Sepenuhnya Dikelola
Indonesia memiliki banyak talenta alamiah. Kita punya bulu tangkis yang mendunia, panjat tebing yang melesat, hingga angkat besi yang sering memberi harapan emas.
Namun, di luar beberapa cabang unggulan, sistem olahraga nasional masih rapuh. Banyak atlet berjuang tanpa dukungan memadai, bahkan pensiun dalam kesulitan ekonomi.
Sampai hari ini, prestasi olahraga kita masih bergantung pada semangat individu, bukan kekuatan sistem. Pemerintah sering kali hanya muncul saat perayaan, bukan dalam proses panjang pembinaan.
Padahal, keberhasilan olahraga bisa menjadi indikator nyata kesejahteraan rakyat. Bangsa yang sehat, kuat, dan berpendidikan akan otomatis melahirkan atlet hebat.
Keterkaitan Ekonomi dan Mental Juara
Ekonomi bukan hanya soal uang, tapi juga soal rasa aman dan harga diri. Atlet yang hidup dalam sistem sejahtera tidak perlu cemas soal masa depan.
Mereka bisa fokus berlatih, bereksperimen, dan bersaing secara sportif. Sebaliknya, di negara yang belum sejahtera, banyak atlet dipaksa memikirkan nasib setelah pensiun, sehingga potensi besar mereka berhenti di tengah jalan.
Bangsa yang kuat di bidang ekonomi biasanya juga kuat dalam disiplin, manajemen, dan riset — hal-hal yang sama dibutuhkan dalam dunia olahraga. Karena itu, keberhasilan di Olimpiade sejatinya bukan kemenangan stadion, melainkan kemenangan peradaban.
Medali Adalah Cermin Bangsa
Olimpiade memang tentang olahraga, tapi lebih dalam dari itu, ia adalah cermin dari kematangan sebuah bangsa. Di balik angka-angka medali, tersimpan cerita tentang keseriusan negara dalam membangun manusia.
Negara yang adil, makmur, dan menghargai jerih payah warganya akan melihat prestasi sebagai buah dari sistem, bukan keajaiban
Semoga Indonesia suatu hari bisa sampai pada tahap itu — di mana medali bukan lagi hasil kerja individu yang melawan arus, tapi hasil dari kebijakan yang berpihak pada manusia dan kemanusiaan.
“Medali emas bukan hanya milik atlet yang berlari paling cepat, tapi milik bangsa yang paling siap.”
Baca juga: Akankah Shin Tae-yong Kembali Ke Timnas?
