
Setiap kali berita kecelakaan tambang ilegal muncul, pola ceritanya hampir selalu sama. Longsor terjadi, lubang tambang runtuh, para pekerja tertimbun. Lalu kita semua kaget—sebentar. Setelah itu berita menghilang, dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Sampai kecelakaan berikutnya terjadi.
Pertanyaannya, apakah ini sekadar musibah? Atau sebenarnya tragedi yang berulang karena kita membiarkannya terjadi?
Antara Perut dan Peraturan
Sebagian besar pekerja tambang ilegal bukanlah penjahat seperti yang sering digambarkan. Mereka adalah orang-orang yang sedang berusaha bertahan hidup. Ketika lapangan pekerjaan formal sulit didapat, tambang ilegal menjadi pilihan yang terlihat menjanjikan. Sekali menemukan emas, batu bara, atau mineral lainnya, penghasilan yang didapat bisa melampaui pekerjaan harian biasa.
Namun di balik potensi penghasilan itu, ada risiko yang jarang disadari secara penuh. Tambang ilegal umumnya tidak memiliki standar keselamatan, tidak ada perhitungan struktur tanah, tidak ada jalur evakuasi, tidak ada pengawasan alat pelindung diri. Semua berjalan berdasarkan keberanian dan harapan.
Sayangnya, alam tidak pernah bisa diajak bernegosiasi.
Baca juga: Pemindahan Ibu Kota sebagai Akhir Jawa-Sentris: Harapan Baru untuk Indonesia yang Lebih Setara
Lemahnya Pengawasan yang Sudah Jadi Rahasia Umum
Bukan rahasia lagi bahwa tambang ilegal sering beroperasi cukup lama sebelum akhirnya ditertibkan. Kadang lokasinya jauh dari pengawasan. Kadang pula sudah diketahui banyak pihak, tetapi penindakan berjalan lambat.
Ada berbagai faktor yang membuat pengawasan tambang ilegal sulit dilakukan. Luasnya wilayah Indonesia, keterbatasan jumlah aparat pengawas, hingga dugaan adanya kepentingan ekonomi di balik aktivitas tambang ilegal, semuanya menjadi kombinasi yang rumit.
Akibatnya, tambang ilegal seperti lingkaran setan. Ditutup satu lokasi, muncul lokasi baru di tempat lain.
Minimnya Edukasi Keselamatan
Banyak pekerja tambang ilegal belajar secara otodidak. Pengetahuan mereka sering diwariskan dari pengalaman lapangan, bukan dari pelatihan keselamatan yang memadai. Mereka tahu risiko longsor, tetapi tidak selalu memahami tanda-tanda awal bahaya.
Dalam dunia pertambangan resmi, ada survei geologi, penguatan struktur, hingga sistem ventilasi. Dalam tambang ilegal, semua itu sering dianggap sebagai kemewahan yang tidak terjangkau.
Padahal, satu kesalahan kecil bisa berujung pada kehilangan nyawa.
Ketergantungan Ekonomi Daerah
Di beberapa daerah, tambang ilegal bahkan menjadi sumber ekonomi utama masyarakat. Banyak warung, transportasi lokal, hingga jasa pengolahan hasil tambang bergantung pada aktivitas tersebut. Ketika tambang ditutup, masyarakat sering kehilangan sumber pendapatan secara mendadak.
Inilah dilema terbesar pemerintah. Menutup tambang ilegal memang penting demi keselamatan dan kelestarian lingkungan. Namun tanpa solusi ekonomi alternatif, penutupan tambang sering hanya menjadi solusi sementara.
Lingkungan yang Ikut Menjadi Korban
Selain menelan korban jiwa, tambang ilegal juga meninggalkan kerusakan lingkungan yang tidak kecil. Lubang-lubang bekas galian yang terbengkalai bisa berubah menjadi perangkap maut. Pencemaran air akibat bahan kimia berbahaya juga berdampak pada kesehatan masyarakat sekitar.
Ironisnya, kerusakan ini sering baru disadari setelah sumber tambang sudah habis dan para penambang berpindah ke lokasi lain.
Jalan Keluar yang Tidak Bisa Setengah Hati
Mengatasi tambang ilegal tidak cukup hanya dengan razia dan penindakan. Dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Edukasi keselamatan kerja, penyediaan lapangan pekerjaan alternatif, hingga legalisasi tambang rakyat dengan pengawasan ketat bisa menjadi solusi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Tanpa langkah nyata, kecelakaan tambang ilegal hanya akan menjadi berita yang terus berulang. Korban berganti, lokasi berpindah, tetapi ceritanya tetap sama.
Dan mungkin, yang paling menyedihkan, kita semua sudah terlalu terbiasa mendengarnya.
Baca juga: Pemindahan Ibu Kota sebagai Akhir Jawa-Sentris: Harapan Baru untuk Indonesia yang Lebih Setara
