
Meskipun Indonesia telah lama meninggalkan sistem monarki dan beralih pada pemerintahan modern, keraton tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Mereka mungkin tidak lagi memegang kendali politik, tetapi pengaruhnya masih terasa dalam adat, status sosial, hingga dinamika kehidupan sehari-hari.
Menariknya, banyak orang bahkan bangga jika bisa mengaku punya hubungan darah atau setidaknya kedekatan dengan keturunan keraton. Ada yang menyebut kakeknya bangsawan, ada yang mengaku punya silsilah yang “katanya” masih ada hubungannya dengan keraton tertentu.
Fenomena ini mengundang pertanyaan besar: Mengapa keraton yang tidak lagi berkuasa secara politik justru tetap dihormati dan bahkan dianggap menaikkan kelas sosial seseorang?
1. Keraton Masih Dipandang Sebagai Simbol Kehormatan dan Derajat Sosial
Walau kerajaan tidak lagi memimpin negara, masyarakat masih sering menempatkan keturunan keraton sebagai golongan dengan derajat sosial lebih tinggi. Bangsawan dianggap memiliki garis keturunan mulia, adab yang halus, serta kehormatan leluhur yang diwariskan turun-temurun.
Karena itu, ketika seseorang mengaku punya darah keraton atau dekat dengan keluarga bangsawan, masyarakat memandangnya sebagai bentuk prestise, seolah status sosialnya otomatis naik.
Inilah yang membuat banyak orang merasa bangga jika punya hubungan, meski jauh, dengan keraton. Dalam masyarakat yang masih menghargai strata sosial, hal seperti ini memiliki efek psikologis yang sangat kuat.
2. Keraton Identik dengan Pengetahuan, Kebijaksanaan, dan Tata Krama
Secara historis, keraton selalu menjadi pusat ilmu pengetahuan, sastra, spiritualitas, dan kebudayaan. Banyak manuskrip, ajaran moral, dan nilai-nilai luhur lahir dari lingkungan keraton.
Dampaknya, masyarakat melihat keturunan keraton sebagai orang yang lebih berwibawa dan cerdas, meskipun secara faktual hal tersebut tidak selalu benar.
Kesan ini begitu mengakar sehingga kedekatan dengan keraton dianggap sebagai kedekatan dengan tatanan moral yang tinggi. Orang ingin terlihat “beda kelas” hanya dengan menghubungkan dirinya ke lingkup tersebut.
3. Adat, Tradisi, dan Seni Budaya Keraton Masih Hidup Hingga Kini
Keraton mungkin kehilangan kekuasaan politik, tetapi tidak pernah kehilangan pengaruh budaya. Mereka masih memegang otoritas moral dalam hal:
- Tata krama dan bahasa halus
- Penggunaan gelar dan struktur hormat
- Busana adat
- Seni tari
- Batik
- Karawitan
- Upacara adat
- Dan simbol-simbol spiritual
Banyak tradisi masyarakat sehari-hari masih merujuk pada kaidah yang berasal dari keraton. Hal ini membuat keraton tetap relevan sebagai penjaga identitas budaya. Bahkan orang yang hidup jauh dari keraton sekali pun tetap tumbuh dengan nilai-nilai yang lahir dari sana.
Baca juga: Mengapa Para Keturunan Keraton Kini Sering Berebut Kekuasaan?
4. Keraton Masih Memegang Peran dalam Politik Simbolik
Walaupun tidak berkuasa, keraton masih dihormati oleh banyak tokoh politik. Tidak sedikit calon kepala daerah yang “minta restu” ke keraton sebelum bertarung di pemilihan umum, entah untuk sekadar pencitraan, mencari legitimasi budaya, atau mengambil hati pemilih tradisional.
Ini membuktikan bahwa keraton memiliki pengaruh simbolik yang kuat. Fotonya saja bisa menaikkan citra seseorang, apalagi jika bisa menunjukkan kedekatan personal.
Karena itu, wajar saja jika sebagian orang ingin terlihat punya hubungan dengan keraton. Dampaknya besar pada persepsi masyarakat.
5. Budaya Indonesia Masih Menghormati Hierarki dan Kelas Sosial
Masyarakat Indonesia memiliki budaya yang sangat menghargai:
- Senioritas
- Gelar
- Keturunan
- Tokoh adat
- Keluarga yang “punya garis”.
Sistem sosial ini memang tidak seketat zaman dulu, tetapi jejaknya masih nyata. Inilah alasan banyak orang ingin dikaitkan dengan bangsawan, meski hanya lewat cerita keluarga generasi ke-6 atau ke-7.
Bagi sebagian orang, status sosial yang terasa naik itu memberikan kebanggaan tersendiri. Sementara bagi masyarakat umum, mereka cenderung memberikan tempat lebih hormat pada keturunan ningrat meskipun tidak semua layak mendapatkannya.
Penutup
Keraton mungkin tidak lagi menjadi pusat kekuasaan, tetapi pengaruh budaya, simbolik, dan sosialnya masih sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Orang-orang masih menghargai nilai-nilai yang lahir dari keraton, mulai dari tata krama, adat-istiadat, hingga simbol kehormatan.
Dan selama budaya kita masih menghormati hierarki sosial, keraton akan tetap memiliki tempat terhormat meski tanpa kekuasaan politik.
Pengaruhnya bukan dari takhta, melainkan dari identitas, warisan budaya, dan rasa hormat kolektif yang masih dijunjung tinggi.
Baca juga: Sejak Kapan Raja Harus Anak Raja?
