
Indonesia adalah negeri dengan kekayaan alam luar biasa: hutan tropis yang luas, tanah yang subur, tambang melimpah, laut yang kaya ikan, serta bonus demografi yang besar.
Namun kenyataannya, sebagian rakyat masih hidup susah, gaji kecil, harga kebutuhan tinggi, dan kesempatan ekonomi sering tidak merata. Mengapa ini bisa terjadi?
Mengapa kita miskin di negeri yang begitu kaya?
1. Kekayaan Alam Dikuasai Segelintir Orang
Secara teori, kekayaan alam adalah milik rakyat. Namun dalam praktiknya, sebagian besar sumber daya dikuasai perusahaan besar: baik swasta nasional, asing, maupun oligarki lokal.
Rakyat hanya menjadi penonton, sementara yang menikmati keuntungan terbesar adalah pemilik modal. Setiap kali terjadi eksploitasi besar-besaran seperti tambang, perkebunan sawit, atau migas — daerah memang berubah, tapi masyarakat sekitar tidak otomatis menjadi lebih sejahtera.
Mereka sering tidak mendapatkan akses kepemilikan, hanya tenaga kerja kasar, atau malah terkena dampak lingkungan. Kondisi ini menciptakan jurang kaya-miskin yang semakin lebar.
2. Kebijakan Ekonomi Tidak Konsisten dan Tidak Berpihak pada Rakyat Kecil
Kesejahteraan rakyat sangat bergantung pada kebijakan pemerintah. Namun kebijakan Indonesia sering berubah-ubah, tidak fokus, dan tidak memiliki perencanaan jangka panjang. Banyak keputusan ekonomi lebih mengutamakan investor besar dibandingkan pemberdayaan rakyat.
Ketika terjadi krisis harga pangan, misalnya, solusi yang diambil sering berupa impor, bukan penguatan petani lokal. Dalam jangka panjang, petani kehilangan daya saing dan justru semakin miskin.
Begitu pula UMKM, yang sebenarnya menyumbang banyak lapangan kerja, tetapi masih lemah dari sisi akses modal, teknologi, dan pasar. Akibatnya, potensi ekonomi besar rakyat tidak berkembang maksimal.
3. Korupsi Masih Tinggi dan Merusak Sistem
Korupsi adalah salah satu penyebab terbesar kemiskinan struktural. Ketika anggaran pembangunan bocor, kualitas fasilitas publik turun: jalan cepat rusak, irigasi tidak berfungsi, sekolah tidak layak, layanan kesehatan buruk.
Dana yang seharusnya mengangkat rakyat justru hilang ke kantong individu. Korupsi juga membuat biaya usaha menjadi mahal karena banyak pungutan tidak resmi. Investor kecil semakin sulit berkembang.
Pada akhirnya, korupsi memiskinkan negara dan rakyatnya. Tidak heran, kekayaan alam sebanyak apa pun tidak mampu mengangkat kesejahteraan jika sistem keuangan bocor di mana-mana.
4. Pendidikan Tidak Merata dan Tidak Berorientasi pada Keterampilan
Pendidikan adalah fondasi kemajuan bangsa. Namun kualitas pendidikan Indonesia masih sangat timpang antara daerah perkotaan dan pedesaan. Kurikulum sering berubah tanpa arah jelas dan lebih menekankan hafalan daripada keterampilan hidup.
Banyak lulusan sekolah dan universitas bingung mencari pekerjaan karena ilmu yang dipelajari tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.
Sementara negara maju berfokus pada teknologi, riset, dan inovasi, kita masih sibuk mengejar nilai ujian. Akibatnya, sumber daya manusia tidak berkembang optimal, dan kesempatan ekonomi banyak terbuang.
Baca juga: Mengapa Demokrasi Sering Gagal Melahirkan Pemimpin Berkualitas?
5. Infrastruktur Ekonomi Belum Tersambung Secara Merata
Pembangunan infrastruktur memang sudah semakin baik, tetapi masih belum merata. Banyak daerah kaya sumber daya seperti timur Indonesia atau pedalaman Nusantara tidak memiliki jalan yang memadai, pelabuhan yang baik, atau jaringan listrik stabil.
Akibatnya, biaya logistik mahal. Produk lokal sulit bersaing karena biaya transportasi sangat tinggi. Petani sering menjual murah hanya karena tidak ada jalur distribusi yang efisien. Tanpa akses infrastruktur yang kuat, kekayaan alam hanya menjadi potensi yang tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal.
6. Budaya Konsumtif Mengalahkan Produktivitas
Ironisnya, sebagian masyarakat justru terjebak pada budaya konsumtif, lebih senang membeli daripada memproduksi. Ketika ada penghasilan tambahan, yang diburu adalah gadget baru, gaya hidup mewah, cicilan, dan hal-hal yang tidak menambah aset.
Padahal, negara kaya menjadi miskin jika masyarakatnya tidak mampu mengelola pendapatan. Negara seperti Jepang dan Korea bisa menjadi maju bukan karena sumber daya alam, tetapi karena budaya kerja keras, produktivitas tinggi, dan kebiasaan menabung. Kita kaya secara alam, tetapi miskin secara mentalitas ekonomi.
7. Lapangan Kerja Berkualitas Masih Terbatas
Banyak orang bekerja keras, namun tetap miskin. Bukan karena malas, tetapi karena upah rendah dan pekerjaan tidak memberikan nilai tambah. Mayoritas tenaga kerja masih berada di sektor informal, tanpa perlindungan, tanpa jaminan kesehatan, dan tanpa peningkatan keterampilan.
Pabrik, industri teknologi, dan perusahaan besar memang ada, tetapi tidak cukup untuk menyerap seluruh tenaga kerja. Akibatnya, banyak orang hidup “pas-pasan” walaupun bekerja sepanjang hari.
8. Ekonomi Kita Masih Bergantung pada Bahan Mentah
Negara kaya adalah negara yang menjual barang bernilai tinggi, bukan sekadar bahan mentah. Namun Indonesia masih sering mengekspor: batubara mentah, nikel mentah, kelapa sawit mentah, ikan mentah, dan hasil bumi lainnya.
Negara lain membeli bahan mentah ini, lalu mengolahnya menjadi barang jadi dengan nilai berkali-kali lipat, kemudian menjualnya kembali ke kita. Kita kaya sumber daya, tetapi menjadi miskin karena tidak memiliki industri pengolahan yang kuat.
Kesimpulan: Kita Kaya, Tetapi Sistemnya Tidak Mendukung Rakyat untuk Sejahtera
Kemiskinan di negeri kaya seperti Indonesia bukanlah takdir, tetapi hasil dari serangkaian masalah:
- Kekayaan alam tidak dikelola untuk rakyat
- Kebijakan tidak konsisten
- Korupsi tinggi
- Pendidikan lemah
- Infrastruktur belum merata
- Budaya konsumtif
- Industri tidak berkembang
Jika akar masalah ini dibenahi, Indonesia bisa menjadi negara maju, bahkan lebih kaya daripada banyak negara industri. Kekayaan kita bukan kurang, hanya belum dikelola dengan benar.
Baca juga: Mengapa Pemimpin Baik Selalu Tersingkir?
