
Jika kita mundur ribuan tahun ke masa lalu, ada satu fenomena menarik yang hampir tidak masuk akal. Peradaban manusia yang terpisah oleh samudra, hutan, dan gurun luas ternyata memiliki kesamaan pandangan terhadap satu benda: emas.
Mesir kuno memuliakannya sebagai logam para dewa. Bangsa Romawi menjadikannya standar ekonomi. Peradaban China menyimpannya sebagai simbol kekayaan. Kerajaan Islam menggunakannya sebagai alat tukar resmi. Bahkan suku-suku kuno di Amerika Selatan dan Nusantara mengenal emas sebagai lambang kemuliaan.
Padahal, mereka hidup di zaman tanpa internet, tanpa komunikasi global, bahkan tanpa mengetahui keberadaan satu sama lain.
Lalu muncul pertanyaan sederhana namun dalam: Mengapa manusia dari berbagai belahan dunia bisa “sepakat” bahwa emas itu berharga?
Emas: Logam yang Menentang Waktu
Sejak manusia pertama kali mengenal logam, mereka juga melihat bagaimana waktu bekerja menghancurkan hampir semua benda.
Besi berkarat, perunggu berubah warna, kayu lapuk, batu pun bisa retak. Namun emas berbeda. Ia tidak berkarat, tidak kusam, tidak berubah meskipun terkubur ribuan tahun. Perhiasan emas yang ditemukan di makam kuno masih tampak hampir sama seperti saat pertama kali dibuat.
Bagi manusia purba, ini bukan sekadar sifat fisik. Ini seperti pesan alam bahwa ada sesuatu yang mampu melawan waktu. Secara naluri, manusia menganggap sesuatu yang mampu bertahan lama pasti memiliki nilai tinggi.
Baca juga: Fungsi Emas dan Perak yang Jarang Diketahui Orang: Lebih dari Sekadar Pajangan atau Simpanan
Langka, Tetapi Masih Bisa Ditemukan
Jika suatu benda terlalu melimpah, ia kehilangan nilai. Jika terlalu langka, manusia tidak akan mengenalnya.
Emas berada di titik keseimbangan yang unik. Ia sulit ditemukan, tetapi tetap ada di berbagai wilayah bumi. Karena itulah, emas secara alami menjadi simbol kekayaan.
Kelangkaan ini menciptakan rasa eksklusif. Orang yang memilikinya dianggap memiliki kekuatan, status, dan pengaruh.
Warna Matahari yang Memikat Peradaban
Secara visual, emas juga memiliki keunikan yang tidak dimiliki logam lain. Warnanya menyerupai cahaya matahari—simbol kehidupan bagi hampir semua kebudayaan manusia.
Tidak mengherankan jika banyak peradaban kuno mengaitkan emas dengan unsur ketuhanan, keabadian, dan kekuasaan langit. Firaun Mesir menyebut emas sebagai “daging para dewa”. Dalam banyak tradisi spiritual, emas dianggap mewakili kesempurnaan dan kemurnian.
Logam yang Bersahabat dengan Teknologi Kuno
Emas bukan hanya indah, tetapi juga mudah diolah. Bahkan dengan alat sederhana, manusia kuno sudah bisa memukul emas menjadi lembaran tipis atau membentuknya menjadi perhiasan.
Logam lain membutuhkan teknologi yang jauh lebih kompleks. Karena itu, emas menjadi salah satu logam pertama yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh manusia.
Baca juga: Mengapa Harga Emas dan Perak Selalu Naik? Tiga Alasan Utama yang Jarang Dibahas
Dari Perhiasan Menjadi Mata Uang
Seiring berkembangnya perdagangan antarwilayah, manusia membutuhkan alat tukar yang dapat dipercaya semua pihak. Emas memenuhi hampir semua syarat:
- Tahan lama
- Mudah dibagi
- Sulit dipalsukan
- Memiliki nilai tinggi dalam ukuran kecil
- Dikenali oleh banyak budaya
Tidak mengherankan jika kerajaan-kerajaan besar dunia akhirnya menjadikan emas sebagai standar ekonomi.
Kesepakatan Tanpa Perjanjian
Menariknya, tidak pernah ada pertemuan global yang memutuskan bahwa emas adalah simbol nilai. Kesepakatan itu muncul secara alami dari pengalaman kolektif manusia.
Setiap peradaban mengamati hal yang sama: emas bertahan terhadap waktu, langka, indah, dan praktis digunakan. Dari pengamatan itu, muncul kepercayaan yang akhirnya diwariskan lintas generasi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa terkadang manusia dari berbagai penjuru dunia bisa mencapai kesimpulan yang sama hanya dengan membaca tanda-tanda alam.
Emas di Era Modern: Warisan Ribuan Tahun
Di tengah kemajuan teknologi dan munculnya mata uang digital, emas tetap memegang peran penting. Banyak negara masih menyimpannya sebagai cadangan kekayaan nasional. Saat krisis ekonomi terjadi, emas sering kembali dipercaya sebagai pelindung nilai.
Ini membuktikan bahwa persepsi manusia terhadap emas tidak banyak berubah sejak ribuan tahun lalu.
Lebih dari Sekadar Logam
Pada akhirnya, emas bukan hanya soal kekayaan. Ia adalah cerminan cara manusia memaknai waktu, kelangkaan, keindahan, dan kepercayaan.
Mungkin emas mengajarkan satu hal sederhana: sesuatu yang mampu bertahan dari waktu sering kali memiliki nilai yang lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan.
Baca juga: Emas: Pondasi Investasi Saham
